Sukses itu Milik Siapapun

Sri Lestari, Patriot yang Bangga Akan Profesinya

Zaman sekarang, tak banyak orang-orang yang mampu tampil tanpa ‘topeng’, tak banyak pula orang yang berani membeberkan siapa sesungguhnya ia, termasuk pekerjaan apa yang ia lakoni sehari-hari. Mayoritas orang ingin terlihat ‘serba wow’di depan orang lain. Maka tak heran, banyak yang memalsukan identitas, cita-cita, penampilan, juga pekerjaan, demi terlihat sempurna di hadapan orang lain.

Menjadi PRT (pembantu rumah tangga) bagi kebanyakan orang bukanlah pekerjaan yang membanggakan, bukan pula profesi yang layak diumbar gaungnya. Profesi PRT seringkali diidentikkan dengan profesi ‘terpaksa’, ‘kepepet’, hina serta sama sekali tidak membanggakan. Namun bagaimana bila ternyata ada seorang PRT dengan bangga mengaku bahwa ia adalah seorang PRT alias babu? Lewat blognya yang berjudul ‘babu ngeblog’ ia seolah tengah menyiarkan ke seluruh dunia dengan bangga, bahwa ia adalah seorang babu, babu yang cinta dan bangga akan pekerjaannya.

Mbak Sri Lestari :))

Izinkan saya memperkenalkan patriot muda itu ke hadapan para pembaca. Ia adalah mbak Sri Lestari, babu asal Blora yang memiliki semangat juang yang luar biasa, babu yang menampik stigma bahwa babu hanya pandai urusan dapur dan sumur, babu yang menjadikan profesi babu menjadi tak layak lagi untuk diremehkan dan direndahkan. Mbak Sri Lestari adalah sang babu tangguh yang menurut saya adalah patriot sejati. Lewat pandangan-pandangan kehidupan yang ia tuangkan dalam blognya, saya pun turut mempelajari banyak hal yang sebelumnya acap disepelekan.

1) Bangga akan profesi yang dilakoni, meski bagi orang lain profesi itu bukanlah profesi yang ‘wah’, malah dipandang sebelah mata.

Profesi harusnya menjadi kebanggaan bagi para pelakonnya :))

Dulu, setiap kali ada yang bertanya pada saya, “Kamu menjadikan profesi penyiar sebagai apa? Pekerjaan atau sekedar hobi saja?”

Saya menjawab dengan raut yakin, “Hobi saja. Saya ingin jadi dosen.”

Padahal bohong! Jelas-jelas saya cinta mati dengan profesi penyiar. Profesi satu ini bukan hanya sebagai sarana menyalurkan hobi, namun juga pekerjaan yang ingin saya lakoni sepenuh hati sampai nanti. Namun, karena saya khawatir cita-cita ingin menjadikan penyiar sebagai profesi selamanya terlalu ‘rendah’, saya pun terpaksa menutupi, dengan mengatakan profesi lain yang kedengarannya jauh lebih ‘wah’.

Dan setelah ‘mengenal’ Sri Lestari, saya pun jadi malu sendiri. Jika kita tak pernah bisa dengan bangga menyebut pekerjaan kita, lantas bagaimana cara kita mencintai profesi tersebut dengan sepenuh hati sampai di kemudian hari?

2) Setiap orang bisa berbagi, siapapun ia, apapun profesinya.

Berbagi mampu mengayakan diri :))

Tunggu kaya dulu, baru deh bisa ngasih sumbangsih bagi orang lain. SALAH! Berikanlah sumbangsih terbaikmu, baru kemudian kekayaan itu akan mengikuti seiring waktu. Lagipula, makna sumbangsih tak melulu terjebak dalam kotak serba material. Banyak cara untuk berbagi, seperti yang mbak Sri Lestari lakukan misalnya, ia berbagi inspirasi dan informasi bagi pembaca blognya. Ia menyuntikkan semangat kehidupan dengan ekstra rasa syukur pada setiap orang yang mau mengulik-ulik kisah hidupnya yang luar biasa.

Babu saja rajin menyebarkan tulisan inspiratif via blognya, lah saya bisa kasih sumbangsih apa? *buru-buru ambil cermin*

3) Punya mimpi yang luar biasa akan membawa pada kehidupan yang luar biasa pula.

Mimpi adalah titik awal menggapai semangat kesuksesan :))

Berawal karena ingin memiliki rumah idaman dengan banyak jendela seperti yang digambarkan dalam dongeng-dongeng, mbak Sri Lestari mulai menapakkan kaki ke seluruh penjuru bumi. Mengais pundi-pundi uang dengan mengenyampingkan rasa malas dan tertindas. Setelah melewati tahun demi tahun penuh onak duri, kerja kerasnya berbuah manis pada akhirnya. Sebuah rumah dengan 12 jendela sudah menyambutnya di kampung halaman.

Hei, jadi tak ada yang salah dengan mimpi, kan? Sama sekali tak ada mimpi yang terlalu indah untuk menjadi kenyataan, asal kita memang melayakkan diri untuk menjadikannya nyata.

4) Apapun profesinya, cerdas dan cekatan itu wajib.

Cerdas = wajib. Apapun profesinya :))

Mbak Sri Lestari bukanlah seorang babu dengan bekal pendidikan IT, namun semangat belajar akhirnya mampu menjadikannya melek teknologi dan ahli mengutak-atik blog kesayangannya. Lihatlah, berkat belajar, ia ibarat tengah menanam kecerdasan. Duh, siapa bilang babu tak boleh cerdas? Malah, kecerdasan dan kecakapan yang dimilikinyalah yang mengantarkan sosok mbak Sri Lestari menjadi layak disanjung dan dihormati.

5)Manfaatkan kesempatan, meski dalam sempitnya keadaan.

Berkaryalah, siapapun kamu, apapun profesimu :))

Tak perlu menunggu keadaan nayaman dan mendukung, baru punya nyali untuk berkarya. Berkaryalah dulu, keadaan akan membaik mengiringinya. See, mbak Sri Lestari ngeblog di loteng kamar dengan modal laptop bekas pemberian majikannya, ia pun harus rela-rela mengurangi jam tidurnya setelah letih seharian membersihkan rumah majikan demi belajar ngeblog dan berkarya.

Susah pada awalnya, senang pada akhirnya. Sekarang, nama mbak Sri Lestari sudah mulai besar gaungnya. Banyak yang mengagumi, memuji, dan mengganggapnya sebagai sosok yang luar biasa. Terbukti bukan, jika pandai memanfaatkan kesempatan, maka dalam sempitnya keadaan pun, kita tetap mampu berkarya dan berjaya.

***

Terimakasih mbak Sri Lestari, atas semangat juangmu yang luar biasa. Engkau berhasil menjadi patriot dengan caramu sendiri. Patriot yang mampu menebar inspirasi tanpa cara yang basi :’)

Sumber:

http://goresanpemenang.blogspot.com/2014/03/sri-lestari-patriot-yang-bangga-akan.html

http://babungeblog.blogspot.com

Proses Kimia saat Jatuh Cinta

PROSES KIMIA SAAT JATUH CINTA

Cinta.. Setiap insan pasti pernah dan akan merasakan cinta.. Siapapun ia,, apapun jabatannnya..
Ups, sory sebelumnya, ini bukan puisi yg sok-sok romantis.. Hanya sekedar kajian ilmiah.. Hehe.
Kembali ke topik kita tentang cinta,, Cinta apapun,, begitu banyak jenisnya. Bahkan kalau kita ingat, ada begitu banyak lagu yang tercipta tentang cinta.. Diantaranya :
Cinta Monyet, Cinta Pertama, kedua, keseratus, keseribu satu,, Cinta Terakhir,, Cinta Buta, bisu, tuli,, Cinta Gila, sarap, sinting,, Cinta Mati 1, cinta mati 2, cinta mati 3 (ampe 3 kali mati, masih aja jatuh cinta), Cinta Setengah Mati, setengah mateng,, Cinta Sudah Lewat,, Cinta Dilarang Lewat (Forbidden Love / Cinta Terlarang),, Cinta Tanah Air (yoi, keren),, Cinta Putih, hitam, merah, kuning, hijau, biru, pink,, Cinta Yang Sempurna, sangat sempurna, kurang sempurna, agak sempurna, terlalu sempurna (kaya bikin kuesioner), Cinta Yang Lain,, Cinta yang ga biasa (Bukan Cinta Biasa),, Cinta Segitiga, persegi panjang, jajargenjang, trapesium, layang-layang, belah ketupat,, Cinta bernuansa Bening, agak keruh, terdapat endapan, timbul gas.. Haha.
Cinta memang menarik,, Saaangat menarik,, dan Akan selalu menarik..
Jika kita bertanya pada orang-orang dewasa ataupun yang telah uzur,
“Kalau Anda ingin kembali ke masa muda, masa manakah yang akan Anda pilih?”,
kira-kira bagaimana jawaban mereka?
Pastilah kebanyakan dari mereka akan langsung menjawab ingin kembali ke masa dimana mereka tertarik pada lawan jenis dengan berjuta-juta jalan cerita yang tak kunjung usai untuk diceritakan (never ending stories). Mereka mengakui bahwa ketika bertatapan dengan kecengan atau pada saat berada di dekat dia atau waktu ngobrol dengan dia, akan timbul perasaan yang tidak dimengerti (tidak biasanya terjadi), seperti perasaan canggung/kikuk, malu, salah tingkah, atau perasaan dag-dig-dug nggak karuan.
Pertanyaan yang sangat bagus untuk Anda yang pernah/sedang mengalami cinta.,
Tahukah Anda dari mana asalnya cinta ???
Atau dengan lebih ilmiah,, Tahukah Anda bagaimana cinta itu dapat terjadi ??? Seperti apa prosesnya ???
Bagi para kimiawan dan kimiawati,, Tahukah Anda senyawa apa yang berperan saat kita jatuh cinta ???
Harus diakui kebanyakan dari kita tidak berusaha sungguh-sungguh mencari jawabannya dan menganggap hal tersebut sesuatu yang biasa saja, sudah dari sononya. Namun, harus Anda ingat kalau kita hidup dalam lingkungan yang ilmiah, maka biasakanlah menjawab segala sesuatu dengan ilmiah pula. Hehe.
Pada kesempatan ini, Saya akan mencoba berbagi sedikit pengetahuan Saya tentang Cinta dan proses kimia nya. Tulisan ini senantiasa Saya buat mengingat permintaan dari salah satu dan satu-satunya pembaca setia tulisan-tulisan Saya, specially for Miss Diajeng Yusriani. Hehe. Beliau lah yang memberikan inspirasi dan motivasi kepada Saya untuk terus menulis, untuk terus berkarya demi terpuaskannya dahaga para petualang ilmiah. (LEBAY Mode : On)
Segitu aja kata pengantar nya,, kembali ke masalah cinta.. Dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan di atas,, para pujangga terdahulu mengatakan “Cinta itu datang nya dari mata turun ke hati”.
Namun fakta ilmiah nya tak sesimpel itu. Sebelum turun ke hati, aliran cinta akan transit dulu di otak untuk melewati proses-proses kimiawi. Dan proses transit ini memerlukan beberapa tahapan sehingga aliran kimiawi cinta tidak sesederhana dan secepat peribahasa ‘dari mata turun ke hati’.
Berikut tahapan-tahapannya:
Tahap 1: Terkesan
Tahap pertama saat kita jatuh cinta adalah Terkesan. Tahap ini terjadi ketika adanya kontak antara dua orang melalui alat indera (mata) baik melalui tatapan, berdekatan, berbicara atau yang lainnya.
Tahap 2: Ketertarikan
Tahap berikutnya adalah Tertarik. Hasil dari kontak kita dengan si do’i menyebabkan timbulnya rasa tertarik pada dirinya, entah tertarik dengan wajahnya, bentuk tubuhnya, sifatnya, sikapnya, kecerdasannya, maupun dompetnya. Pada tahap ini, otak akan terangsang untuk menghasilkan tiga senyawa cinta, yaitu: Phenyletilamine (PEA), Dopamine dan Nenopinephrine.

• Phenyletilamine (PEA) atau 2-feniletilamina. Senyawa ini mempunyai Mr =121,18; titik didih sebesar 197-200oC ; berat jenis = 0,965 ; titik Fahrenheit = 195oF (90oC) dan memiliki bidang polarisasi ND 200 = 1,5335
• Dopamine. Struktur Dopamine ada dua, yaitu: 1. Dopamine (3-hidroksitiraminihidrogenbromida atau 3,4-dihidroksiphenentilamin). Mempunyai Mr = 234,10 dan titik lebur 218-220ooC 2. Dopamine (3-hidroksitiraminhidrogenklorida atau 3,4-dihidroksiphenetilamin). Mempunyai Mr = 189,64 dan titik lebur 241 – 243oC
Dari ketiga senyawa tersebut, senyawa PEA-lah yang paling berperan dalam proses kimiawi cinta. Senyawa ini juga yang mengakibatkan Anda merasa tersipu-sipu malu ketika berpandangan dengan orang yang Anda sukai. Dan ternyata senyawa PEA ini banyak terkandung dalam coklat seperti Silver Queen, Waver Tango, Conello, Es Krim, Choki-Choki, dan lain-lain. Mungkin inilah sebabnya orang-orang dulu bahkan juga sekarang suka memberi coklat pada seseorang yang dicintainya. (Wets, harusnya Saya dapet komisi nih karena sudah mengiklankan produk-produk mereka)
Tahap 3: Pengikatan
Tahap berikutnya, kita merasa hati kita telah terikat, tertambat, atau bahasa bakunya nyangkut pada dirinya. Pada tahap ini tubuh akan memproduksi senyawa Endropin. Senyawa inilah yang akan menimbulkan perasaan aman, damai, dan tentram. Otak akan memproduksi senyawa ini apabila orang yang kita kasihi berada di dekat kita.
Tahap 4: Tahap Terakhir
Inilah yang terakhir. Pada tahap ini senyawa Oxyrocin yang dihasilkan oleh otak kecil mempunyai peranan dalam hal membuat rasa cinta itu menjadi lebih rukun dan mesra antara keduanya.
Jika orang sudah jatuh cinta kepada lain jenis, maka ada tanda-tanda yang dapat kita lihat antara lain: • Malu-malu jika orang yang dicintai memandanginya.
• Tunduk kepada perintah orang yang dicintai dan mendahulukannya daripada kepentingan diri sendiri. (kecuali disuruh lompat dari jurang, siapa juga mikir2 dulu)
• Memperhatikan perkataan orang yang dicintai dan mendengarkannya.
• Segera menghampiri yang dicintai.
• Mencintai apapun yang dicintai sang kekasih. (termasuk lagu, Kangen Band, Wali)
• Jalan yang dilalui terasa pendek sekalipun panjang saat mengunjungi orang yang dicintai.
• Kaget dan gemetar tatkala berhadapan dengan orang yang dicintai atau tatkala mendengar namanya disebut.
• Cemburu kepada orang yang dicintai.
• Rela berkorban untuk orang yang dicintai.
• Menyenangi apapun yang menyenangkan orang yang dicintai.
• Tunduk dan patuh kepada orang yang dicintai.
• Menghindari hal-hal yang merenggangkan hubungan dengan orang yang dicintai dan membuatnya marah.
• Adanya kecocokan antara orang yang mencintai dan yang dicintai.
Demikian tahapan-tahapan aliran kimiawi cinta, tetapi janganlah kita terpersepsikan bahwa jika kata ‘cinta’ akan selalu berhubungan dengan pacaran. Sebab jika kita berbicara masalah cinta, sebenarnya bukan hanya untuk lawan jenis, tetapi perasaan cinta seseorang kepada suami/istrinya, anak, teman, adik, serta saudara yang lain.
Dan terlepas dari pembagian porsinya yang berbeda-beda, haruslah diingat bahwa segala sesuatu tersebut adalah karunia dari Sang Pencipta yakni Allah SWT sehingga wajar porsi paling besar haruslah kita berikan kepada Allah SWT. Dan semoga kita adalah orang-orang yang bukan termasuk orang-orang yang menyalahkan arti/makna cinta tersebut.
Hmm,, So,, sudah tahu kan sekarang bagaimana proses ilmiah nya saat kita jatuh cinta ?! Kalau begitu, yang sekarang terpikirkan dalam benak Saya adalah…
Mari kita sintesis senyawa-senyawa tersebut.. Dengan bekal ilmu yang diperoleh dari Pa Ris (Dosen Sintesis Kimia Organik),, mari kita coba buat dari awal, CaCl2 + H20.. Haha.
Mungkin bisa minta bantuan beliau, dan siapa tahu ini bisa menjadi Skripsi, Thesis, bahkan Disertasi kita..
Wess,, mantap..
Andaikan Saya berhasil mensintesis-nya,, maka ini adalah salah satu upaya untuk mengurangi tindakan tidak terpuji orang-orang yang patah hati, dimana seperti sebuah pantun klasik:
“Cinta Ditolak,, Dukun Bertindak”
Sangat memprihatinkan ketika keimanan seseorang harus dikorbankan karena patah hati, ditolak cinta, dsb. Bahkan baru-baru ini sedang marak peristiwa bunuh diri karena cinta.. Ck,ck,ck
Insya Allah dengan kita dapat membuat sendiri sebuah Obat Jatuh Cinta,, Obat yang berisi senyawa-senyawa yang berperan dalam proses jatuh cinta tersebut,, tak akan terjadi lagi hal-hal tersebut.. Dan tak ada lagi pantun klasik yang menyesatkan tersebut,, Yang ada menjadi:
“Cinta Ditolak,, Beli Obat Gue Ajax”
Haha. Good Dreams for Good Life.
Semoga ini dapat menjadi kenyataan,,
akhir kata,,
Maju Terus Ilmu Pengetahuan Indonesia,, Dukung Para Petualang Cinta yang Ilmiah..
Wassalam..

Kalkulator dalam Uji Korelasi dan Regresi

I. PANDUAN PENGGUNAAN KALKULATOR (CASIO : fx – 350 MS)

Dalam Uji Korelasi dan Regresi

1. Contoh Rumusan Masalah :

1.a. Sejauhmana pengaruh nilai pelajaran Matematika (X) dari sampel 10 siswa tehadap kemampuan memahami pelajaran Fisika (Y) ?

1.b. Sejauhmana pengaruh motivasi kerja (X) dari sampel 10 orang guru terhadap kinerja guru (Y) tersebut ?

2. Apa perbedaan rumusan a dengan b ?

2.a. Variabel X berasal dari nilai (skor) atau rata-rata kumpulan nilai Matematika, sedangkan variabel Y berasal dari nilai (skor) atau rata-rata kumpulan nilai Fisika.

2.b. Variabel Motivasi (X) berasal dari total nilai (skala sikap dll) setiap indikator dari semua subvariabel (motif, dll). Sedangkan variabel kinerja (Y) berasal dari total nilai (skala/frekuensi, dll) setiap indikator dari semua subvariabel (rajin, dll).

3. Apa persamaan rumusan a dengan b ? Ke dua permasalahan menggunakan analisis kuantitatif hubungan korelasi antara dua variabel (X dan Y) untuk mengukur sejauhmana pengaruh X terhadap Y atau secara matematika dinyatakan dengan : X Y Dengan demikian, skor (nilai) X dan Y untuk ke dua permasalahan tersebut sama.

Misalnya didapat tabel data sebagai berikut : Sampel/ Skor A B C D E F G H I J ∑X X ∑X2 ∑XY n xσn xσn-1 X 9 8 7 8 8 10 10 8 9 7 Y 9 7 6 7 6 9 9 5 8 8 ∑Y Y ∑Y2 ∑XY n yσn yσn-1 Kotak-kotak yang belum terisi harus diisi dari hasil hitungan kalkulator, jangan dengan manual. 4. Asumsi Terhadap X atau Y tidak ada pengaruh lain (ekstraneous). 5. Aktifkan kalkulator anda, karena analisis statistik inferensial akan dimulai. Ikuti langkah-langkah berikut : Comp SD Reg On/AC Mode : maka akan keluar display 1 2 3 (kita sebut saja display A) Display A 3 : maka akan keluar display Lin Log Exp (kita sebut saja display B) 1 2 3 Display B 1 : maka akan keluar display _ (kedip-kedip) (kita sebut saja display C) 0 Display C shift (atas kiri) : maka akan muncul display yang sama/tetap, lalu mulai entry atau masukkan data dengan cara sbb. : (Tanda panah artinya : terus pijit ………) 6. Data pertama yang dientry : A X 9 Y 9 9 , 9 M+ sebagai sampel (n)=1 B X 8 Y 7 8 , 7 M+ sebagai sampel (n)=2 DST, sampai dengan J (sampel ke-10) J X 7 Y 8 7 , 8 M+ sbagai sampel (n)=10 Terus pijit-pijit lagi 7. Mulai mengolah data X : n _ (kedip-kedip) shift sampai muncul display 10 kita sebut saja display D Display D 1 sampai muncul display (kita sebut saja display E) ∑X 2 ∑X n 1 2 3 Anda boleh pilih nomor yang mana dulu. Prinsipnya sama. Angka-angka dalam display E, kalau dipijit akan menghasilkan angka sesuai rumus yang diminta di atas angka-angka tersebut. Mari kita lanjutkan !!! 1 sampai muncul display ∑X 2_ (kedip-kedip) 10 = maka akan dihasilkan angka 716 sebagai ∑X 2 lalu masukkan kedalam tabel data yang masih kosong. shift 1 2 sampai muncul display ∑X_ (kedip-kedip) 716 = maka akan dihasilkan angka 84 sebagai ∑X lalu masukkan kedalam tabel data yang masih kosong. shift 1 3 sampai muncul display n_ (kedip-kedip) 10 = maka akan dihasilkan angka 10 sebagai n lalu masukkan kedalam tabel data yang masih kosong. Cari data-data kosong untuk Y Untuk mencarinya ikuti : 8. Mengolah data Y Dari langkah terakhir, kembali ke : shift 1 sampai muncul display (display E) ∑X 2 ∑X n 1 2 3 kursor kanan 1x sampai muncul display ∑Y 2 ∑Y ∑XY 1 2 3 Display F 1 sampai muncul display ∑Y 2_ (kedip-kedip) 10 = sehingga didapatkan angka 566 sebagai ∑Y 2 lalu masukkan ke tabel data yang kosong. Berikutnya : shift 1 sampai muncul display (display E) ∑X 2 ∑X n 1 2 3 kursor kanan 1x sampai muncul display ∑Y 2 ∑Y ∑XY 1 2 3 Display F 2 sampai muncul display ∑Y _ (kedip-kedip) 566 = sehingga didapatkan angka 74 sebagai ∑Y lalu masukkan ke tabel data yang kosong. Berikutnya : shift 1 sampai muncul display (display E) ∑X 2 ∑X n 1 2 3 kursor kanan 1x sampai muncul display ∑Y 2 ∑Y ∑XY 1 2 3 Display F 3 sampai muncul display ∑XY _ (kedip-kedip) 74 = sehingga didapatkan angka 631 sebagai ∑XY lalu masukkan ke tabel data yang kosong. 9. Untuk mencari rata-rata X dan Y dan simpangan baku sampel X yaitu xσn dan xσn-1 mulai dari Display E atau F. Ikuti langkah berikut : shift 2 sampai muncul display (display G) X xσn xσn-1 1 2 3 1 sampai muncul display X_ (kedip-kedip) 0 = sehingga didapatkan angka 8,4 sebagai X lalu masukkan ke tabel data yang kosong. 10. Untuk mencari simpangan baku xσn sampel, ikutilah langkah terakhir tadi, lalu : shift 2 sampai muncul display (display G) X xσn xσn-1 1 2 3 2 sampai muncul display xσn _ (kedip-kedip) 8,4 = sehingga didapatkan angka 1,0198 atau 1,02 sebagai SX lalu masukkan ke tabel data yang kosong. 11. Untuk mencari data hasil olahan Y shift 2 sampai muncul display (display H) Y yσn yσn-1 1 2 3 1 sampai muncul display Y_ (kedip-kedip) 1,0198 = sehingga didapatkan angka 7,4 sebagai Y lalu masukkan ke tabel data yang kosong. 12. Untuk mencari simpangan baku yσn sampel, ikutilah langkah terakhir tadi, lalu : shift 2 sampai muncul display (display H) Y yσn yσn-1 1 2 3 2 sampai muncul display yσn _ (kedip-kedip) 7,4 = sehingga didapatkan angka 1,356 atau 1,36 sebagai Sy lalu masukkan ke tabel data yang kosong. Ingat !!! Jangan dulu matikan kalkulator anda. Tapi, kalau dimatikan pun boleh, sebab data tidak akan hilang, cuma sebaiknya tetap dalam keadaan aktif. Ada pertanyaan ? Mestinya ada. Apa coba ? Ya itu, kenapa xσn-1 dan yσn-1 tidak ikut dihitung ? Mau dihitung sekarang juga boleh menggunakan prinsip-prinsip yang sama seperti yang lain. Ternyata simpangan baku yang ini ada hubungannya dengan uji hipotesis dan akan kita bahas nanti. 13. Untuk mencari (analisis) korelasi, gunakan persamaan regresi : Y = a + bX atau Y = bX + a Inilah awal dari ANAVA (Analisis Varians) a = konstanta regresi b = koefisien arah regresi Ikuti langkah berikut : Kembali ke : shift 2 sampai muncul display (display G) X xσn xσn-1 1 2 3 kursor kanan 2x sampai muncul display A B r 1 2 3 Display I 14. Untuk mencari a = konstanta regresi : lalu 1 lalu muncul display A_ (kedip-kedip) 0 = dihasilkan angka – 0,1923 15.Untuk mencari b = koefisien arah regresi, lakukan langkah berikut : shift 2 sampai muncul display (display G) X xσn xσn-1 1 2 3 kursor kanan 2x sampai muncul display A B r 1 2 3 Display I lalu 2 lalu muncul display B_ (kedip-kedip) – 0,1923 = dihasilkan angka 0,9038 16. Sedangkan r atau ρ sebagai faktor determinan atau koefisien determinasi atau koefisien korelasi, dicari dengan langkah : shift 2 sampai muncul display (display G) X xσn xσn-1 1 2 3 kursor kanan 2x sampai muncul display A B r 1 2 3 Display I lalu 3 lalu muncul display r_ (kedip-kedip) 0,9038 = dihasilkan angka 0,67952 atau 0,68 17. Dengan demikian dihasilkan persamaan regresi : Y = -0,1923 + 0,9038X atau Y = 0,9038X – 0,1923 18. Hasil Analisis Karena koefisien korelasi r atau ρ bernilai positif (0,68), maka nilai matematika siswa X berpengaruh terhadap pemahaman fisika Y. Atau : Motivasi kerja X berpengaruh terhadap kinerja guru Y. Berapa besar pengaruhnya ? Kuadratkan saja r atau ρ menjadi r2 = (0,68)2 = 0,68 x 0,68 = 0,4624 ~ 0,46 atau pengaruhnya sebesar 46% 19. Kesimpulan X berpengaruh sebesar 46% terhadap Y , sedangkan sisanya dipengaruhi oleh faktor lain (ekstraneous) tea geuning. Artinya, pengaruh X terhadap Y tidak terlalu signifikan. Untuk menghitung taraf signifikansi. Nanti kita bahas lagi. Kalau anda mau melanjutkan kerja anda dengan menggambar kurva distribusi skor atau sampai ke Uji Hipotesis ……., jangan dulu matikan kalkulator anda. Cukup pijit shift lalu AC. Kerjakan langkah berikutnya. Aktifkan kembali kalkulatornya, da data nu tadi moal leungit, asal belum dipake buat ngerjain yang lain atau buat ngitung-ngitung pengeluaran kuliah. Yu kita mulai : Buat tabel berikut : Sampel/ Skor A B C D E F G H I J X 9 8 7 8 8 10 10 8 9 7 Y 9 7 6 7 6 9 9 5 8 8 Artinya, titik A terdapat pada koordinat sumbu x = 9 dan sumbu y = 9 atau A (9,9). Atau titik B terdapat pada koordinat sumbu x = 8 dan sumbu y = 7 atau B (8,7) DST. Kemudian persamaan regresi yang tadi Poin ke-17 : y = 0,9038 x – 0,1923 gunakan untuk menghitung tiap harga x berikut : (ambil dari 0 – 10 saja) ngga usah banyak-banyak.  Buat tabel berikut : X 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Y Untuk mengisi kolom kosong Y gunakan rumus persamaan regresi tadi dengan cara : Bila x = 0,maka f(x) atau y = 0,9038(0) – 0,1923 = – 0,1923 lalu kalikan 10 = -1,9 atau -2 Bila x = 1,maka f)x) atau y = 0,9038(1) – 0,1923 = – 0,1000 lalu kalikan 10 = -1,0 atau -1 DST.  …..sehingga pada akhir akan didapat tabel yang sudah terisi : X 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Y -1,9 -1 -0,1 0,8 1,7 2,6 5,2 6,1 7,0 7,9 8,8 Buat dulu kurva dengan tabel ini, lalu kurva dari tabel pertama : 10 9 A G F 8 J I B 7 D 6 E C 5 H 4 3 2 1 -2 -1 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 -1 -2 21. UJI HIPOTESIS Dengan taraf signifikansi 5% atau 0,05 Ambil salah satu rumusan permasalahan yang akan diuji hipotesisnya. Bila yang diambil : Sejauhmana nilai matematika berpengaruh terhadap pemahaman fisika, maka dari hasil pengamatan rumusan masalah, yang digunakan adalah : Hipotesis NonDireksional (Tidak Terarah) dua ekor, yaitu : Hipotesis nolnya : Tidak terdapat pengaruh yang signifikan antara penguasaan matematika terhadap pemahaman fisika Hipotesis kerjanya : Terdapat pengaruh yang signifikan antara penguasaan matematika terhadap pemahaman fisika. H0 : r = 0 H1 : r ≠ 0 Kriteria pengujian, bila r hitung ≥ r tabel, maka H0 ditolak. Sebaliknya bila r hitung < r tabel, maka H0 diterima. Lihat r pada tabel r (product moment) Dengan derajat kebebasan (db) = n – nr = 10 – 2 = 8 n = jumlah sampel, sedangkan nr adalah jumlah variabel yang dikorelasikan. Dari tabel r Pearson didapatkan angka untuk r tabel pada db = 8 dengan signifikansi 5% pada uji dua ekor = 0,632 Karena r hitung = 0,68 masih lebih besar dari r tabel = 0,632 maka H0 ditolak. Dengan menggunakan Uji P (product moment), tanpa simpangan baku populasi, cari dulu t hitung = t hitung = = 10,12 t tabel dengan db = 10 -2 = 8 pada derajat 0,05 untuk dua ekor adalah 2,306 Karena t hitung lebih besar dari t tabel (kritis) maka Ho ditolak. II. SOAL-SOAL KLASIK 1. Suatu populasi terdistribusi normal dengan χ = 70 dan simpangan baku populasi σx = 20 dan jumlah sampel n = 25. Tentukan peluang diperolehnya sebuah sampel acak dengan x = mean = 80 atau > 80. Jawab : zhitung : z80 = = + 2,50 sedangkan untuk z70 = 0 Lihat Appdix F Tabel A hal 556 untuk z = + 2,5 akan didapatkan 0,0062 = ztabel Dengan demikian, peluang diperoleh sampel = 0,0062 x 100% = 0,62% Peluang > 80 = 0,5 – 0,0062 = 0,4938 Peluang antara 10 di atas rata-rata dan 10 di bawah rata-rata adalah 0,4938 x 2 = 0,9876 ztabel = 0,0062 luas peluang 0,0062 x 70 80 z hitung= 0 +2,5 2. Hipotesis Mean Tunggal z Norma nasional Skor Matematika = µ = 123. Sedangkan sampel acak sebanyak n = 81 siswa dari suatu kabupaten A menunjukkan skor rata-rata = 117 dengan simpangan baku populasi σ = 10 Pembuktian : zhitung : z = = – 5,40 sedangkan untuk z123 = 0 Lihat Appndix F Tabel A hal 556 untuk z = – 5,4 akan didapatkan ztabel untuk satu ekor kanan pada α = 0,05 adalah + 1,645 Tabel A hal 554 ztabel untuk satu ekor kanan pada α = 0,01 adalah + 2,325 Tabel A hal 555 Dengan demikian : H0 : µ = 123 diterima H1 : µ = 123 ditolak Ztabel/kritis = + 2,325 (α = 0,01) Ztabel/kritis = + 1,645 (α = 0,05) Batas daerah penolakan H0 Daerah penolakan (krisis) H0 daerah penerimaan H0 Luas α = 0,05 α = 0,01 x 117 123 zhitung = -5,4 0 3. Hipotesis mean tunggal z Skor rata-rata B Indonesia Kabupaten A = 98, sedangkan dari N = 15 sampel dari suatu Kecamatan C dengan sejumlah skor yang berbeda menghasilkan rata-rata 102,7 dengan simpangan baku sampel σx = 4,98 disimpulkan, bahwa : Diketahui : µ = 98 µx = 102,7 n = 15 α = 0,05 σx = σn-1 = 4,98 simpangan baku sampel σ = simpangan baku populasi = tidak diketahui,sehingga digunakan uji t, bukan z Maka thitung = = 3,66 sedangkan untuk t123 = 0 Gunakan df atau dk = N – 1 = 15 – 1 = 14 pada α = 0,05 dibagi 2 = 0,0025, sehingga didapatkan ttabel atau tkritis = ± 2,145 Lihat Appndix F Tabel D hal 564 Kesimpulan, karena harga thitung = 3,66 > tkritis = ± 2,145 berada di daerah penolakan, maka H0 ditolak. Batas daerah penolakan H0 daerah penolakan thitung = 3,66 (krisis) H0 Daerah penolakan daerah (krisis) H0 penerimaan H0 α = 0,025 Luas α = 0,025 x 98 102,7 t -2,145 +2,145 t = 0 4. Dasar Statistik Inferensial Seorang Kepala Sekolah mencatat bahwa skor rata-rata tes membaca tahun ini 35,5 padahal tahun lalu 37,5. Sebelum menganjurkan untuk meningkatkan skor tersebut, ada pertanyaan yang harus disampaikan, yaitu (hal 3) : a. Berapakah nilai populasinya ? b. Berapakah ukuran sampel yang diambil ? c. Perlakuan (metode atau waktu) bagaimana yang diberikan ? 5. Dasar Statistik Inferensial Diketahui : Skor-skor : 1,2,4,7,dan 11 n = 5 a. x = 5 (mean) rata-rata sampel Simpangan baku skor (sampel) adalah menggunakan rumus kalkulator : σ n-1 atau menggunakan rumus : Sx = x χ (x – χ)2 1 5 16 2 5 9 4 5 1 7 5 4 11 5 36 ∑ 25 46 didapat Sx = = √11,5 = 3,39 b. c. mean sampel d. e. simp baku sampel Sampel Χ jumlah sampel : 2 S2x = 1,1 1 0 0 1,2 1,5 0,25+0,25 = 0,5 0,125 1,4 2,5 2,25+2,25 = 4,5 1,125 1,7 4 9 + 9 = 18 4,5 1,11 6 50 12,5 2,1 1,5 0,5 0,125 2,2 2 0 0 2,4 3 2 0,5 2,7 4,5 6,25+6,25 = 12,5 3,125 2,11 6,5 20,25+20,25 = 40,5 10,125 4,1 2,5 4,5 1,125 4,2 3 2 0,5 4,4 4 0 0 4,7 5,5 4,5 1,125 4,11 7,5 12,25+12,25 = 24,5 6,125 7,1 4 18 4,5 7,2 4,5 12,5 3,125 7,4 5,5 12,5 3,125 7,7 7 0 0 7,11 9 8 2 11,1 6 50 12,5 11,2 6,5 40,5 10,125 11,4 7,5 24,5 6,125 11,7 9 8 2 11,11 11 0 0 ∑ = 84,5 Hasilnya = 84,5/25 = 3,38 Hampir sama dengan hasil rumus N – 1 f. Standar error mean sampel berukuran 2 (N = 2) Mean sampel µX = 5 Simpangan Baku Sampel σx = σ n-1 = 3,63 Simpangan Baku Populasi σ = 3,63/√2 = 2,57 g. Mean sampel µx = Mean populasi µ = 5 h. Harga simpangan baku populasi σ yang dihitung dalam “e” tidak sama hasilnya dengan hasil “f” i. Pendistribusian mean sampel : Mean Sampel Frekuensi Relatif Mean Sampel Diurut 1 (ada 1) 1/25 1 , 1/25 (1 ; 1) 1,5 (ada 2) 2/25 1,5 , 2/25 (1,5 ; 2) 2,5 (ada 2) 2/25 2 , 1/25 (2 ; 1) 4 (ada 3) 3/25 2,5 , 2/25 (2,5 ; 2) 6 (ada 2) 2/25 3 , 2/25 (3 ; 2) 2 (ada 1) 1/25 4 , 3/25 (4 ; 3) dst. 3 (ada 2) 2/25 4,5 , 2/25 4,5 (ada 2) 2/25 5,5 , 2/25 6,5 (ada 2) 2/25 6 , 2/25 5,5 (ada 2) 2/25 6,5 , 2/25 7,5 (ada 2) 2/25 7 , 1/25 7 (ada 1) 1/25 7,5 , 2/25 9 (ada 2) 2/25 9 , 2/25 11 (ada 1) 1/25 11 , 1/25 6. Dasar Statistik Inferensial Skala WAIS dengan mean populasi µ = 100 dan simpangan baku populasi σ = 15. Bila ditarik sampel acak (N) = 25, maka : Peluang diperolehnya sampel dengan mean sampel µx = 95 dan kurang adalah : zhitung : z95 = = – 1,67 sedangkan untuk z100 = 0 z105 = = + 1,67 Lihat Appdix F Tabel A hal 556 untuk z = 1,67 akan didapatkan 0,00475 = ztabel Dengan demikian, peluang diperoleh sampel = 0,00475 x 100% = 0,475% Peluang < 95 = 0,5 – 0,00475 = 0,49525 = Peluang > 105 Peluang antara 10 di atas rata-rata dan 10 di bawah rata-rata adalah 0,49525 x 2 ztabel = 0,00475 = 0,9905 = 99,05% luas peluang 0,00475 luas peluang 0,00475 x 95 100 105 z hitung -1,67 0 +1,67 -1,67 = hasilnya : -1,67 x 3 = x -100 x = +94,99 +1,67 = hasilnya : +1,67 x 3 = x -100 x = +101,67 Jadi batas-batas sentral dimana terdapat 95% mean adalah antara +94,99 – + 101,67 dan untuk memperoleh mean di luar batas-batas tersebut adalah 5% atau 0,05. (hal 18) 7. Hipotesis Mean Tunggal z dan t Diketahui : mean populasi µ = 85 Simpangan baku populasi σ = 10 N = 100 α = 0,05 mean sampel µx = 87,1 Hipotesis Uji dua ekor, berarti hipotesis nondireksional dengan ungkapan berbeda atau tidak berbeda H0 : µ = 85 H1 : µ ≠ 85 = = 1 zhitung : z87,1 = = + 2,1 untuk zhitung = +2,1 memiliki peluang 0,0179 atau 1,79% Tabel A hal 555 ztabel : Pada 0,05 yang dibagi 2 menjadi 0,025 lihat Tabel A hal 555 didapatkan ± 1,96 = zkritis Dengan demikian : ztabel : +1,96 Batas daerah penolakan H0 daerah penolakan zhitung = 2,1 (krisis) H0 Daerah penolakan daerah (krisis) H0 penerimaan H0 α = 0,025 Luas α = 0,025 x 85 87,1 zhitung 0 +2,1 t = 0 Karena zhitung = 2,1 berada di daerah penolakan H0 maka H0 : µ = 85 ditolak H1 : µ ≠ 85 diterima 1b. Nilai-nilai kritis x (mean sampel) dalam bentuk skor mentah : -1,96 = hasilnya : -1,96 x 1 = x – 85 x = + 83,04 +1,96 = hasilnya : +1,96 x 1 = x – 85 x = + 86,96 1c. Bila α = 0,1 maka untuk uji dua ekor dibagi 2 menjadi = 0,05 sehingga hasilnya ztabel = zkritis = ± 1,645 Tabel A hal 554 ztabel : +1,645 Batas daerah penolakan H0 daerah penolakan zhitung = 2,1 (krisis) H0 Daerah penolakan daerah (krisis) H0 penerimaan H0 α = 0,05 Luas α = 0,05 x 85 87,1 zhitung 0 +2,1 t = 0 Karena zhitung = 2,1 berada di daerah penolakan H0 maka : tetap saja H0 : µ = 85 ditolak H1 : µ ≠ 85 diterima 8. Mean-mean tunggal z dan t Diketahui : Mean sampel µx = 63 Simpangan baku sampel = σx = 12 Ukuran sampel N = 100 Simpangan baku populasi σ = 60 Hipotesis non direksional (tak terarah) : H0 : µ = 60 H1 : µ ≠ 60 a. pada α = 0,05 zhitung : z63= = + 2,5 sedangkan untuk z60 = 0 Lihat Appdix F Tabel A hal 556 untuk z = + 2,5 akan didapatkan 0,0062 = ztabel Bila α = 0,05 maka untuk uji dua ekor dibagi 2 menjadi = 0,025 sehingga hasilnya ztabel : Pada Tabel A hal 555 didapatkan ± 1,96 = zkritis ztabel : +1,96 Batas daerah penolakan H0 daerah penolakan zhitung = 2,5 (krisis) H0 Daerah penolakan daerah (krisis) H0 penerimaan H0 α = 0,025 Luas α = 0,025 x 60 63 zhitung 0 +2,5 Karena zhitung = 2,5 berada di daerah penolakan H0 maka : H0 : µ = 63 ditolak H1 : µ ≠ 63 diterima Bila α = 0,01 maka untuk uji dua ekor dibagi 2 menjadi = 0,005 sehingga hasilnya ztabel = zkritis = ± 2,575 Tabel A hal 556 ztabel : +2,575 Batas daerah penolakan H0 daerah penolakan zhitung = 2,5 (krisis) H0 Daerah penolakan daerah (krisis) H0 penerimaan H0 α = 0,005 Luas α = 0,005 x 60 63 zhitung 0 +2,5 t = 0 Karena zhitung = 2,5 berada di daerah penerimaan H0 maka : H0 : µ = 60 diterima H1 : µ ≠ 60 ditolak b. Lihat Appendix F Tabel A hal 556 untuk z = + 2,5 akan didapatkan ztabel = 0,0062 Dengan demikian, peluang diperoleh sampel = 0,0062 x 100% = 0,62% Peluang > 63 = 0,5 – 0,0062 = 0,4938 c. Peluang antara 3 di atas rata-rata dan 3 di bawah rata-rata adalah 0,4938 x 2 = 0,9876 ztabel = 0,0062 luas peluang 0,0062 x 57 60 63 z hitung 0 +2,5 9. Mean-mean tunggal Jika H0 ditolak pada tingkat signifikansi 0,05, secara beralasan berdasarkan perhitungan nilai z atau t serta luas kurva penolakan yang dihasilkan, maka diyakini H0 tidak bisa dibilang salah atau benar, tergantung pernyataan dan kondisi awal di mana peneliti akan memulai suatu langkah penelitian, apakah akan diputuskan untuk diterima atau ditolak..(hal 2) Jika hasil yang diperoleh dalam sampelnya berlawanan dengan H0 dan cukup kuat pada validitas H1 maka H0 ditolak, jika tidak akan dipertahankan. Jika sampel mean sangat berbeda dari apa yang diharapkan oleh H0 benar, sehingga kemunculannya seperti tidak mungkin, maka H0 seharusnya ditolak. Keputusannya agak mana-suka, tapi penelitian biasanya menolak H0 jika mean sampel terlalu menyimpang sehingga peluang kejadiannya 50% atau lebih kecil. (hal 3) PANDUAN PENGGUNAAN KALKULATOR (CASIO : fx – 350 MS) UNTUK ANALISIS STATISTIK (Korelasi-Regresi) Disusun Oleh : Dadan Ramdani

Mutu Pendidikan

Mutu Pendidikan ditunjukkan dengan mutu kinerja suatu lembaga pendidikan secara keseluruhan. Namun berdasarkan konsep mutu dalam manajemen mutu terpadu, mutu kinerja suatu lembaga pendidikan tidak hanya berorientasi pada output/outcome dan input, tapi pada proses pendidikan itu sendiri.

Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.