Mutu Pendidikan


I.
Beberapa Definisi tentang Mutu

 

Dalam Ross (1995 : 4-5), Edward Deming (1950) mengemukakan bahwa mutu adalah nilai yang sesuai dan dapat diandalkan. Mutu digambarkan sebagai reaksi berantai, yaitu, bila mutu meningkat, maka biaya akan menurun dan produktivitas meningkat, lalu menghasilkan lebih banyak pesanan,. Akibatnya, kebutuhan pasar akan lebih besar, dan mutu harus bertahan dalam waktu yang lama.

Sedangkan menurut Philip Crosby, seperti dikutip oleh Ross (ibid. : 6-7), mutu adalah :

1. Sesuatu yang sesuai dengan yang disyaratkan atau dibutuhkan, bukan kebaikan;

2. Sistem untuk mencapai mutu adalah pencegahan, bukan penaksiran;

3. Tampilan baku dengan prinsip tanpa cacat, bukan hanya mendekati kecukupan;

4. Ukuran mutu adalah nilai ketidaksesuaian, bukan sesuatu nilai yang diurut-urutkan (indexes).

 

Joseph Juran (1954) dalam Ross (ibid. : 5-6), mengemukakan bahwa mutu adalah kesesuaian manfaat dengan rancangan, kebutuhan, ketersediaannya, keamananannya, dan kegunaan umumnya. David Garvin sependapat, sehingga menganjurkan lima pendekatan untuk mendefinisikan mutu, yaitu suatu kondisi dinamis yang berhubungan dengan :

 

1. Produk (product-based),

2. Manusia/tenaga kerja (user-based),

3. Proses (manufacturing-based),

4. Tugas,

5. Lingkungan yang memenuhi atau melebihi harapan pelanggan atau konsumen (transcendent and value-based). (Ross, ibid. : 97)

Harvey dan Green (1993) dalam Ekroman SS (2002), juga sependapat, bahwa mutu diartikan sebagai suatu konsep relatif dari setiap orang yang dapat berubah tergantung konteks dan nilai terhadap beberapa hal yang berbeda.

 

Dari beberapa pendapat tersebut, dapat disimpulkan bahwa mutu merupakan bukti keunggulan suatu produk yang dapat memenuhi bahkan melebihi harapan pemakainya, mengandung sejumlah manfaat dan diterima oleh lingkungannya, tersedia dalam jumlah cukup banyak, menjamin keamanan pemakainya, tidak memiliki cacat fisik atau fungsi, keunggulannya bertahan cukup lama, selalu sesuai dengan selera dan kondisi saat ini.

 

Dengan demikian, untuk mencapai peningkatan mutu suatu produk, diperlukan perubahan atau peningkatan keterampilan tenaga kerja, perubahan proses produksi dan tugas, serta perubahan lingkungan organisasi agar produk dapat memenuhi atau melebihi harapan pelanggan. Hal ini disebabkan, di saat tertentu seseorang mungkin akan menerapkan konsep yang berbeda dengan di saat yang lain untuk satu hal yang sama. Artinya, selera atau harapan pelanggan pada suatu produk selalu berubah, sehingga kualitas produk juga harus berubah atau disesuaikan.

 

Untuk itu diperlukan :

 

1. Metode pengukuran beberapa jenis proses produksi dalam suatu industri untuk menentukan penyebab mutu yang tidak baik,

2. Penetapan tujuan tahunan secara spesifik melalui penyusunan tim kerja,

3. Penekanan terhadap program tanpa cacat,

4. Pembentukan gugus kendali mutu dalam pengelolaan melalui penggunaan berbagai metode, baik secara statistik ataupun teknik dalam industri.

II. Beberapa Definisi tentang Mutu Pendidikan

Burge dan Tannock dalam Rowley (1995), mengartikan mutu (pendidikan) sebagai keberhasilan suatu lembaga pendidikan menyediakan lingkungan pembelajaran yang memungkinkan siswa efektif mencapai tujuan pembelajaran yang sesuai dengan standar akademik yang telah ditetapkan. (Ekroman, 2002)

Menurut Ace Suryadi (1992), mutu pendidikan adalah kemampuan sistem pendidikan, secara manajerial dan teknis profesional, untuk meningkatkan kemampuan belajar. Pendidikan dinyatakan sudah bermutu apabila seluruh peserta didik yang mengikuti suatu satuan program pendidikan pada jenis dan jenjang tertentu mencapai standar yang telah ditetapkan untuk satuan program tersebut (Nurrochim, 2007)

Karena itu, pendidikan yang bermutu adalah pendidikan yang dapat menghasilkan keluaran bermutu, baik pelayanan dan lulusan yang sesuai kebutuhan atau harapan pelanggan, sebagai output proses pendidikan yang berlangsung di sekolah, berdasarkan keterampilan/kemampuan yang didapat oleh siswa yang lulus. Mutu dalam konteks ini adalah pada prestasi yang dicapai oleh sekolah (siswa) pada setiap kurun tertentu, baik akademis atau non akademis Artinya, sekolah bermutu adalah sekolah yang dapat memuaskan pelanggan internal maupun eksternalnya. Indikator-indikator tercapainya kepuasan ini bisa terlihat dari beberapa peningkatan kemampuan/keterampilan siswa dan staf, peningkatan proses pembelajaran dan tugas, peningkatan fasilitas, peningkatan partisipasi masyarakat, dan peningkatan kesejahteraan seluruh komponen sekolah.

Referensi :

Crosby, Philip B., 1979, Quality is Free, New York, New American Library,

Deming, W. Edward, 1986, Out of Crisis, Cambridge, Massachussets Institute of Technology

Ekroman, Sri Soejatminah, 2002, Quality Assurance dalam Sistem Pendidikan Tinggi, Jakarta, Biro Perencanaan Setjen Depdiknas

Goetsch and Davis, 1994, Introduction to Total Quality, Englewood Cliffts : Prentice-Hall Inc.

Juran, J. M., 1989, Juran on Leadership for Quality, USA : Juran Institute, Inc.,

Nurochim, 2007, Peningkatan Mutu Sekolah, Artikel, akses 10 Nopember 2008

Ross, Joel E., 1995, Total Quality Management : Text, Cases and Readings, New Delhi, St. Lucie Press Vanity Books International, Second Edition.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: